Ahlak Mulia Islami (akhlakul karimah)

( sumber : artikel Aris Badaruddin Thoha dan Ayatolah Ibrahim A. dll)

 

Pengantar

Dari pengalaman hidup saya menyadari bahwa ahlak merupakan faktor penting dalam bermasyarakat. Akhlak ternyata merupakan ajaran Islam yang juga sangat penting. Akhlak merupakan buah yang dihasilkan dari proses menerapkan aqidah dan syariah/ibadah. Ibarat pohon, akhlak merupakan buah kesempurnaan dari pohon setelah akar dan batangnya kuat. Jadi, akhlak hanya terwujud pada diri yang memiliki aqidah dan syariah yang baik. Istilah karakter sering digunakan yang sebenarnya memiliki esensi yang sama, yakni berkaitan dengan sikap dan perilaku seseorang

 

Nabi Muhammad saw. bersabda bahwa kehadirannya di muka bumi ini membawa misi pokok untuk menyempurnakan akhlak masyarakat. Sabda Nabi : “Aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”. Misi Nabi ini membutuhkan waktu yang lebih dari 22 tahun untuk mewujudkannya. Nabi memulai dengan pembenahan aqidah masyarakat Arab selama 13 tahun, lalu dilanjutkan dengan menerapkan syariah setelah aqidahnya mantap. Dengan memantapkan aqidah dan syariah, Nabi dapat mewujudkan akhlak yang mulia di kalangan umat Islam pada waktu itu.

 

Pengertian Akhlak

Secara etimologi, istilah Akhlak berasal dari bentuk jamak khuluk yang berarti watak, tabiat, perangai dan budi pekerti. Imam al-Ghazali memberi batasan khuluk sebagai : “Sifat yang tertanam dalam jiwa yang mendorong lahirnya perbuatan dengan mudah dan ringan tanpa pertimbangan dan pemikiran mendalam”. Suatu perbuatan dapat disebut baik jika perbuatan baik itu dilakukan secara spontan dan tidak ada paksaan atau intervensi dari orang lain.

 

Ibnu Miskawaih dalam kitab Tahdzibul Akhlak menjelaskan bahwa “khuluk ialah keadaan gerak jiwa yang mendorong untuk melakukan perbuatan tanpa pertimbangan dan pemikiran”. Gerak jiwa meliputi dua hal. Pertama, alamiah dan bertolak dari watak seperti sifat yang mudah marah atau tertawa berlebihan. Kedua, keadaan jiwa yang tercipta melalui kebiasaan atau latihan. Oleh karena itu, pendidikan akhlak sangat diperlukan untuk mengubah karakter manusia dari keburukan ke arah kebaikan.

 

Hubungan Antara Akidah Dengan Akhlak

Sesuai dengan pengertian di atas, akhlak merupakan manifestasi iman, Islam dan Ikhsan sebagai refleksi sifat dan jiwa yang secara spontan dan terpola pada diri seseorang sehingga melahirkan perilaku yang konsisten dan tidak tergantung pada pertimbangan berdasarkan keinginan tertentu. Semakin kuat dan mantap keimanan seseorang, semakin taat beribadah maka akan semakin baik pula akhlaknya.

 

Dalam hadis lain, Rasul saw bersabda, “Akhlak terpuji adalah setengah iman.

 

Dengan demikian, akhlak tidak dapat dipisahkan dengan ibadah dan tidak pula dapat dipisahkan dengan akidah karena kualitas akidah akan sangat berpengaruh pada kualitas ibadah yang kemudian juga akan sangat berpengaruh pada kualitas akhlak. Akhlak terpuji akan menyempurnakan jiwa manusia dan mendekatkannya kepada Allah. Jadi ahlak yang baik akan meningkatkan keimanan seseorang. Sebaliknya, akhlak tercela akan menarik jiwa manusia menuju kehinaan dan menjauhkannya dari Allah. Manusia akan melihat akibatnya kelak di akhirat.

Sabda Rasul saw lainnya berbunyi, “Pada hari kiamat, tidak ada sesuatu yang lebih berat timbangannya daripada akhlak yang terpuji.”[54]

Amirul Mukminin as berkata kepada putranya, “Allah menjadikan akhlak mulia sebagai perantara hubungan diri-Nya dengan hamba-hamba-Nya. Apakah engkau tidak ingin memiliki akhlak yang bisa menghubungkanmu dengan Allah?” Imam Shadiq as berkata, “Akhlak mulia adalah hiasan seorang hamba di dunia dan pembawa kebahagiaan di akhirat. Dengan akhlak mulia, agama seseorang akan sempurna dan mendekatkannya kepada Allah.” [63]

 

Rasulullah saw bersabda, “Sebagian besar umatku masuk surga dikarenakan ketakwaan dan akhlak mulia yang mereka miliki.”

 

 

Imam Shadiq as mengatakan, “Akhlak mulia akan menghapus dosa seperti sinar matahari yang mencairkan es.”

Jiwa manusia adalah sebuah hakikat mulia, bersinar, malakuti dan lebih tinggi dari materi. Manusia lebih mulia dari hewan berkat jiwa malakuti yang ada dalam dirinya. Di sinilah kita bisa mengetahui kedudukan nilai-nilai akhlak. Akhlak mulia sesuai dengan esensi manusia dan jiwa malakutinya. Bila akhlak mulia tidak ada pada diri manusia, tidak akan ada perbedaaan antara dia dan hewan.

 

Akidah dalam ajaran Islam merupakan dasar bagi segala tindakan muslim agar tidak terjerumus kedalam perilaku-perilaku syirik. Syirik disebut sebagai kezaliman karena perbuatan itu menempatkan ibadah tidak pada tempatnya dan memberikannya kepada yang tidak berhak menerimanya. Oleh karena itu muslim yang baik akan menjaga segala yang memiliki akidah yang benar, ia akan mampu mengimplementasikan tauhid itu dalam bentuk akhlak yang mulia (akhlakul karimah). Allah berfirman dalam surat Al-An’am (06) : 82 :

  

Artinya : Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik),  adalah orang yang mendapatkan  keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.

 

Orang yang mendapat petunjuk adalah mereka yang tahu bersyukur, bersyukur kepada Alloh karena telah dianugerahi demikian banyak nikmat. Orang yang tidak kufur nikmat akan terjaga bahwa  perbuatan mereka senantiasa sesuai dengan petunjuk Allah. Inilah yang dimaksud dengan akhak mulia. Dengan demikian ada hubungan yang amat erat antara akidah dengan akhlak, bahkan keduanya tidak dapat dipisahkan.

 

Akhlak dalam Pandangan Islam

Berbagai mazhab akhlak yang bermunculan kebanyakan berasaskan pada pandangan dunia dan antropologi para pengikut mazhab tersebut. Mazhab akhlak Islam juga berangkat dari pandangan dunia khasnya.

Dalam Pandangan Dunia Islam, alam wujud ini memiliki Tuhan yang menciptakan dan mengaturnya. Manusia adalah makhluk imortal yang tidak akan binasa dengan kematian, tapi berpindah dari dunia ini menuju alam akhirat untuk mendapatkan ganjaran perbuatan baik dan buruk yang dilakukannya.

Islam memandang manusia sebagai makhluk berikhtiar dan mukallaf (menerima tugas dan tanggungjawab). Ia tidak diciptakan tanpa suatu tujuan, tapi ia lahir untuk mendapatkan kesempurnaan jiwa dan bergerak menuju Allah yang akhirnya bermuara pada kehidupan bahagia di akhirat. Manusia adalah makhluk dua dimensi:

Dari satu sisi, ia adalah makhluk yang mempunyai naluri hewani dan hawa nafsu, yang mau tidak mau, harus dipenuhi olehnya.

Di lain pihak, ia memiliki ruh malakuti yang membuatnya lebih unggul dibanding hewan-hewan lain. Sebab itu, dia diangkat menjadi khalifah Allah dan kedudukannya lebih tinggi ketimbang malaikat. Kehidupan batin manusia juga memiliki kebahagiaan dan kesengsaraan. Ia bisa mencapai kesempurnaan dengan syarat ia mampu mengembangkan dimensi insani dan malakutinya serta mengontrol hawa nafsu hewaninya.

Di sinilah kedudukan nilai-nilai akhlak akan terlihat, yaitu kesempurnaan jiwa yang selaras dengan ruh malakuti manusia dan yang akan menyinari jiwanya serta menenangkannya.

Adapun akhlak tercela dan tenggelam dalam hawa nafsu, sangat kontras dengan ruh dan hakikat mulia manusia. Kedua hal ini akan melemahkan sisi insaninya dan menyeretnya ke jurang kehinaan.

Meski Islam menyebut nilai-nilai akhlak selaras dengan fitrah manusia, tapi ia tidak menganggapnya cukup dalam menyeru manusia kepada akhlak terpuji dan menjauhkannya dari akhlak tercela. Oleh karena itu, ia menyeru manusia kepada akhlak terpuji melalui cara mempertebal iman kepada Allah, hari akhir, janji pahala ukhrawi dan ancaman siksa neraka.

Akhlak dalam Islam bertumpu atas iman kepada Allah, hari akhir, harapan akan pahala dan rasa takut dari azab yang merupakan jaminan terbaik seseorang berakhlak mulia. Dampak dari iman kepada Allah dan mencari ridha-Nya adalah seseorang bisa lebih mudah mengendalikan naluri hewaninya dan menghidupkan nilai-nilai kemanusiaan seperti itsâr (altruisme: mementingkan orang lain), pengorbanan, membela orang terzalimi, memerangi kezaliman, menegakkan keadilan, jihad, sifat amanah dan berbuat baik kepada orang lain.

Pada prinsipnya, Islam menilai harga setiap perbuatan dari sisi iman dan niat taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah. Norma-norma akhlakpun akan memberi kesempurnaan dan kebahagiaan kepada manusia bila didasari iman dan niat taqarrub. Bila tidak, maka semuanya akan sia-sia., walau dalam pandangan umum, hal itu masih dianggap sebuah keutamaan.

 

 

Sumber Akhlak

Akhlak berkaitan dengan nilai baik dan buruk. Oleh karena itu ukuran yang menjadi dasar penilaian tersebut harus merujuk pada nilai yang Islami. Dengan demikian, ukuran baik buruknya suatu perbuatan harus merujuk pada norma-norma agama, bukan sekedar kesepakatan budaya. Kalau tidak demikian, norma-norma akan berubah seiring dengan perubahan budaya, sehingga sesuatu yang baik dan sesuai dengan agama bisa jadi suatu saat dianggap buruk pada saat bertentangan dengan budaya yang ada.

 

Dalam Islam, akhlak menjadi salah satu inti ajaran. Fenomena ini telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW, sebagaimana disebutkan dalam Al Qur’an surat al–Qalam (4) : 

 


 

Artinya : “Dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.”

 

Keseluruhan akhlak Rasulullah ini juga diungkapkan oleh Aisyah r.a. saat ditanya tentang akhlak Nabi. Saat itu Aisyah berkata : “Akhlak Nabi adalah Al Qur’an”. Demikian juga disebutkan dalam Al Qur’an surat Al Ahzab (33) : 21.

 

 


Artinya : Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.

 

Dengan demikian bagi umat Islam, untuk menunjuk siapa yang layak dicontoh tidak perlu sulit sulit, cukuplah berkiblat kepada akhlak yang ditampilkann oleh Rasulullah SAW. Dalam sebuah hadis dinyatakan : “orang-orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik budi pekertinya” (HR. Ahmad dari Abu Hurairah). Dalam hadis yang lain yang diriwayatkan oleh at Turmudzi dari Jabir r.a., Rasulullah menyatakan : “Sungguh di antara yang paling aku cintai, dan yang paling dekat tempat duduknya dengan aku kelak pada hari kiamat adalah orang yang paling baik akhlaknya diantara kamu”.

 

Merujuk pada paparan di atas, sumber akhlak bagi setiap muslim jelas termuat dalam Al Qur’an dan hadis Nabi. Selain itu, sesuai dengan hakekat kemanusiaan yang dimilikinya, manusia memiliki hati nurani (qalbu) yang berfungsi sebagai pembeda antara perbuatan baik dan buruk. Hal tersebut sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW kepada sahabat Wabishah tatkala beliau bertanya tentang kebaikan (al-birr) dan dosa (al-itsm) dalam dialog seperti yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad sebagai berikut :

 

“Hai Wabishah, bertanyalah kepada hatimu sendiri, kebaikan adalah sesuatu yang jika kamu lakukan, jiwamu merasa tentram, sedang dosa adalah sesuatu yang jika kamu lakukan, jiwamu bergejolak dan hatimu pun berdebar debar meskipun orang banyak memberi tahu kepadamu (lain dari yang kamu rasakan).”

 

Berkaitan dengan hati nurani, muncul persoalan, dapatkah dijamin bahwa hati nurani selalu dominan dalam jiwa manusia sehingga suaranya selalu didengar, mengingat dalam diri manusia terdapat dua potensi yang selalu bertolak belakang yaitu potensi yang mengarah kepada kebaikan (taqwa) dan potensi yang mengarah pada keburukan (al-fujur), dimana kekuatan yang lebih menonjol tentunya menjadi dominan dalam mempengaruhi keputusan suatu persoalan.

 

Oleh karena itu, agar hati nurani seorang muslim selalu dalam kondisi kepada kebaikan, maka ia harus selalu disucikan. Seorang muslim perlu menjaga rutinitas dan kontinuitas ibadah, berusaha untuk selalu mendekatkan diri (taqarub) kepada Allah, membaca sejarah orang orang terdahulu serta selalu berusaha untuk saling menasehati dengan sesamanya.

Macam-macam Akhlakul Karimah

Dalam Al Qur’an dan hadis banyak dijelaskan bagaimana perilaku (akhlak) yang sesuai dengan aturan Islam. Seperti misalnya di dalam Al Qur’an surat Asy-Syams (91) : 7-10 yang berbunyi :

 

 

 

Artinya : “Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, Dan Sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.”

 

Ayat di atas menjelaskan bahwa barang siapa ingin mencapai kebahagiaan hidup, hendaknya dia mensucikan jiwanya dari sifat sifat tercela dan berusaha memiliki ketakwaan yang tinggi. Artinya, dia harus selalu berusaha meningkatkan ketakwaan dengan cara yang benar.

 

Ayat lain di dalam Al Qur’an mengajarkan kepada manusia untuk menahan hawa nafsunya, sebagaimana terdapat dalam surat an-Naazi’at (79) : 40-41 yang berbunyi :

 

 

 

Artinya : “Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, Maka Sesungguhnya syurgalah tempat tinggal(nya).”

 

Dalam Al Qur’an surat Ali Imron (3) : 200, Allah swt berfirman

 

 

 

 

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.”

 

Ayat di atas mengajarkan kepada manusia untuk tetap tabah dan sabar dalam menghadapi berbagai ujian dan cobaan yang menimpa dirinya dalam kehidupannya.

Al Qur’an surat at-Taubah (09) : 119 mengajarkan kepada manusia untuk bertakwa dan jujur dalam setiap perbuatan.

 

 

 

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.”

 

Jujur hendaknya tidak hanya kepada orang lain, tetapi juga terhadap diri sendiri. Salah satu perilaku jujur misalnya saat menjalani ujian semester. Sebagai seorang muslim, hendaklah mahasiswa tidak tergoda untuk berlaku curang dengan cara menyontek atau menekan dosen yang mengajar untuk memberi nilai yang diinginkannya, padahal tidak sesuai dengan kemampuan dirinya.

 

Dalam hal mencukupi kebutuhan hidupnya, Islam mengajarkan kepada umatnya untuk bekerja profesional sesuai dengan ilmu dan ketrampilan yang dimilikinya. Salah satu hadis yang diriwayatkan oleh imam Malik, Imam Bukhori, Imam Muslim, Imam Turmudzi dan Nasa’i dari Abu Hurairah yang menyatakan : “Sungguh, seandainya kamu mencari kayu seikat yang dibawa di atas punggung (untuk kemudian dijual) , lebih baik bagimu daripada minta minta kepada seseorang yang mungkin diberi atau ditolak.”

Hadis ini dengan tegas melarang umat Islam untuk menjadi pengemis, yang bekerja dengan mengandalkan belas kasihan orang lain.

 

Berkaitan dengan berbagai bentuk akhlakul karimah, Ibnu Miskawaih menunjukkan berbagai macam kebajikan yang mencerminkan akhlakul karimah berupa sifat yang arif, jujur, sederhana, kebesaran jiwa, kedermawanan (murah hati), bersilaturahmi.